Monday, March 02nd, 2015 | Author:

Big is beautiful, ungkapan ini berlaku dalam dunia bisnis dalam artian pasar yang besar akan dipandang layaknya wanita cantik yang akan mengundang para produsen berduyun-duyun untuk mencoba merebut perhatian si cantik atau dalam hal ini market share sebesar besarnya. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk nomor 5 terbesar di muka bumi tentu menjadi begitu sexy untuk diperebutkan oleh para produsen untuk memasarkan produk andalan mereka termasuk pula produk kendaraan bermotor tentunya.produk_otomotif

Saat ini negara kita telah dibanjiri oleh beragam produk dari berbagai brand maupun pabrikan otomotif terkemuka dari seluruh penjuru dunia, tak hanya dari Asia seperti Jepang, Korea maupun India, pemain besar yang berasal dari negara Eropa maupun Amerika Serikat juga tak mau ketinggalan untuk berkompetisi memperebutkan pasar otomotif tanah air.

Memang produsen yang berasal dari Jepang masih begitu mendominasi pasar kita, kedekatan historis maupun model serta kesamaan kebutuhan dari masyarakat kita diyakini menjadi faktor utamanya. Beberapa brand seperti Toyota, Suzuki, Honda, Nissan maupun Mitsubishi begitu tenang melenggang dalam jalur cepat persaingan industri ini dengan selalu menempati the big 5 atau 5 teratas dalam hal penjualan unit di tingkat nasional dengan penjualan yang jauh melewati produsen lain dari Asia, Eropa bahkan Amerika.

Dari segi kategori maupun segmentasi, kendaraan keluarga serbaguna terutama dari kelas menengah atau low MPV masih menjadi primadona melalui beberapa produk populernya seperti Toyota Avanza, Kijang Innova maupun Suzuki Ertiga, indikasi paling jelas dan terupdate dari kepopuleran segment ini juga terlihat Honda Mobilio yang mampu menjadi mobil terlaris kedua di Indonesia pada tahun 2014 meskipun LMPV ini belum genap setahun hadir meramaikan bursa otomotif tanah air.

Setelah MPV, kelas kendaraan kompak atau lazim disebut sebagai citycar mengikuti dengan berbagai sub kategori seperti hatchback, sub compact hatchback hingga yang paling baru yakni kelas low cost green car atau jenis kendaraan dengan kapasitas mesin dibawah 1000 cc yang lahir sebagai jawaban atas himbauan pemerintah agar para produsen juga menghadirkan produk kendaraan dengan harga lebih ekonomis dan juga ramah lingkungan.

Banyaknya produk dari berbagai produsen atau manufaktur yang datang ke negeri ini tentu saja berdampak pada tingkat persaingan yang kian ketat serta kompetitif. Hal ini disatu sisi memberikan benefit bagi masyarakat sebagai konsumen karena mereka memiliki lebih banyak pilihan dari amsing masing kategori kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan maupun budget mereka, sedangkan disisi lain hal itu membuat produsen harus bekerja ekstra keras dalam menghadirkan produk terbaik sesuai keinginan konsumen serta memikirkan beragam cara atau strategi pemasaran paling efektif.

Langkah pertama tentunya memperkenalkan kelebihan juga keunggulan daris etiap produk yang ditawarkan kepada calon konsumen potensial. Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat belakangan ini membuat produsen maupun distributor semakin melirik media teknologi informasi terutama berbasis internet untuk keperluan promosi bahkan direct selling produk mereka.

Pemasaran yang semakin mudah bahkan memanfaatkan media internet menjadi trend marketing yang semakin diminati oleh para produsen maupun distributor produk kendaraan bermotor dalam beberapa tahun terakhir. Selain memperbaiki kemampuan juga mempermudah akses melalui website resmi masing masing, divisi pemasaran dari hampir seluruh brand tersebut juga memanfaatkan sejumlah layanan serta fasilitas lain dari media ini seperti media sosial, start up juga online advertising yang disebut sebagai digital marketing.

Kontrol Ketat Dari Pemerintah Terkait Regulasi Otomotif Sangat Diperlukan

Dengan segala dinamika tersebut, tentunya pemerintah tak bisa berdiam diri atau bersifat pasif menyikapi perkembangan otomotif yang semakin menggeliat di negeri ini. Fungsi kontroling harus dijalankan dengan sebaik baiknya agar persaingan serta pertumbuhan industri ini tetap berjalan dengan sehat dan tak hanya menguntungkan satu pihak namun juga semua elemen yang ada di dalam pusaran industri raksasa ini mulai dari produsen, distributor, dan tentu saja konsumen sebagai tujuan akhir industri ini.

Terlebih lagi Indonesia akan segera menghadapi apa yang disebut sebagai Masyarakat Ekonomi Asean atau Asean Economic Community yang akan mulai diberlakukan akhir tahun 2015 mendatang. Fenomena yang banyak disebut sebagai lanjutan pasar bebas itu sendiri merupakan sebuah kesepakatan antara negara negara Asia Tenggara untuk membuat sebuah pasar tunggal di kawasan tersebut dalam rangka meningkatkan kemampuan daya saing terutama untuk menghadapi dua raksasa ekonomi Asia yaitu China dan India.

Tujuan utama dari MEA adalah menarik investor asing untuk menanamkan modal mereka hingga akhirnya membuka lebih banyak kesempatan kerja bagi para pendusuk di kawasan tersebut. Nmaun satu yang perlu disadari, MEA bukan hanya akan memberi kesempatan seluas luasnya bagi para negara anggotanya untuk memasarkan produk barang atau jasa namun juga pasar tenaga kerja profesional dalam semua disiplin ilmu serta bidang profesi.

Artinya MEA akan menghapus banyak sekali aturan terkait pembatasan perekrutan tenaga kerja asing yang selama ini diberlakukan. Untuk itu pemerintah harus menyikapinya dengan melindungi tenaga kerja bangsa kita agar tetap mampu bersaing dengan tenaga kerja bangsa lain terutama dengan upaya meningkatkan kualitas SDM melalui berbagai pelatihan serta melakukan kerjasama dengan investor yang memang berniat melakukan bisnisnya dengan memberdayakan sumber daya bangsa Indonesia bukan hanya menilai dari besaran investasi yang ditanamkannya semata.

LCGC mungkin adalah salah satu upaya nyata terkait dalam hal ini, karena dalam regulasinya telah jelas disebutkan untuk menggunakan sebagian besar komponen produksi lokal untuk setiap produk. Dengan demikian hal itu dapat membuka kesempatan bagi para UKM maupun industri lokal untuk memasok hasil produksinya pada manufaktur raksasa global yang memproduksi kendaraan berjenis LCGC, dengan sendirinya akan berdampak pada terbukanya kesempatan kerja sekaligus berusaha bagi masyarakat terutama dari kalangan menengah bawah.

Artinya, MEA juga akan membuka kesempatan lebih luas bagi para pengusaha lokal untuk melakukan joint venture dengan perusahaan berskala internasional dan memberi kesempatan lebih besar bagi perusahaan lokal untuk segera go international. Pada industri otomotif ini telah mulai dilihat ketika Indonesia telah menjadi salah satu negara basis produksi untuk beberapa manufaktur ternama dimana mereka juga menggunakan spareparts atau komponen buatan dalam negeri untuk produk global mereka, dengan demikian komponen kita secara otomatis telah menembus pasar ekspor.

Satu lagi, hal itu juga akan berdampak langsung pada industri penunjang seperti pemasaran produk yang selama ini dianggap sebagai industri sekunder. Sebagai pasar terbesar di kawasan Asean, tentunya faktor marketing adalah faktor krusian disamping juga kualitas produk. Hal ini akan membuat para produsen melakukan segala upaya untuk menunjang sisi marketing mereka termasuk meningkatkan kemampuan wiraniaga serta memanfaatkan outsource atau pihak luar untuk mengembangkan usaha pemasaran produknya.

Salah satu yang dilirik tentunya adalah pemasaran online atau digital marketing, selains ebagai upaya marketing product, teknologi internet juga membuat produsen semakin mudah menampilkan portofolio perusahaan hingga sangat menunjang bagi brand value mereka ketengah konsumen yang pada akhirnya dapat meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk produk keluaran mereka.

 

Category: OTOMOTIF
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.

Comments are closed.